Tampilkan postingan dengan label tugas sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tugas sekolah. Tampilkan semua postingan

Permintaan Terakhir

Riska namanya, pelajar berusia 17 tahun yang baru duduk di bangku 11 SMA. Untuk umur seusianya, seharusnya Riska bisa tertawa, bercanda seperti anak anak lainnya. Namun, inilah kenyataan yang harus Riska hadapi. Riska selalu beranggapan bahwa hidupnya ini begitu sial, penuh dengan penderitaan. Mulai dari permasalahan rumah tangga Ayah dan Ibu Riska, masalah kakaknya, Risky, dan masalahnya sendiri.

Ayah dan Ibunya, bercerai beberapa bulan yang lalu tepat pada ulang tahunnya ke-17. Kini Riska hanya tinggal bersama Ibunya dan Risky. Entah di mana keberadaan Ayahnya sekarang. Kakaknya, Risky, terjerumus pada obat-obatan terlarang. Ibu Riska sama sekali tidak tahu soal hal ini. Riska diminta Risky untuk tidak memberitahukan kepada siapa pun. Lagipula, bila Riska bilang ke Ibunya, pasti Ibunya akan semakin tertekan. Riska bingung apa yang harus ia lakukan untuk membuat kakaknya itu sadar. Riska begitu menyayangi Risky seperti Risky menyayanginya. Sudah banyak hal yang Riska lakukan untuk menyadarkannya, bahwa hal yang ia lakukan salah. Namun tetap saja ia tidak bisa berhenti dari kecenderungannya itu.

Tidak tahu kenapa, akhir–akhir ini Riska sering merasa mual dan muntah–muntah. Awalnya Riska hanya menganggap itu adalah hal biasa, namun Riska semakin takut. Bahkan sempat terlintas pikiran bodoh dari temannya yang menduga bahwa Riska hamil. Selain gejala itu, Riska juga sering susah tidur, dan merasa pusing, bahkan sesak nafas. Badannya juga sering lemas dan lesu.

Saat Riska mencoba mengecek keadaannya ke dokter, dokter itu bertanya kepada Riska “Apakah ada gejala lain yang parah selain gejala–gejala tersebut?”, dan Riska pun menjawab “Ada sih, dok”, dengan ragu Riska menjawab pertanyaan dokter itu.

“Apa itu Ris?”, tanya dokter itu.

“Anu dok.. anu..”, Riska pun masih takut untuk menjawabnya.

“Sudahlah, tidak apa. Katakan saja Ris!”, kata dokter itu.

“Hmm, akhir–akhir ini aku sering membuang air seni bercampur dengan darah”, jawab Riska.

“Wah, sepertinya kau mengidap penyakit yang parah. Sebaiknya kita cek”, kata dokter.

Dokter itu kemudian mengecek keadaan Riska dengan menggunakan alat dan keluar dengan membawa kabar yang buruk.

“Riska, sesungguhnya saya berat untuk mengatakan ini. Apa tidak lebih baik dibicarakan bersama keluargamu saja?”, tanya dokter itu.

“Memangnya saya kenapa dok?”, tanya Riska dengan raut wajah cemas.

“Begini, kamu sesungguhnya mengidap penyakit gagal ginjal!”, kata dokter dengan raut wajah tegang.

“Apa doookk??”, sahut Riska dengan kaget dan cemas karena tidak percaya dengan apa yang dikatakan dokter itu.

“Iya Ris, kamu yang sabar ya. Inilah kenyataannya, ini sudah menjadi takdir Yang Maha Kuasa”, ucap dokter itu sambil menenangkan Riska.

Riska pun tak kuasa menghadapi kenyataan ini. Lengkap sudah penderitaannya selama ini. Riska semakin beranggapan bahwa hidupnya ini begitu sial. Riska hanya bisa berdoa dan pasrah. Riska tahu, sangat sulit bagi penderita gagal ginjal untuk bisa bertahan hidup. Ditambah dengan keadaan ekonomi keluarganya yang tergolong sulit, semenjak Ayah dan Ibunya bercerai. Kata dokter, Riska harus cuci darah setiap seminggu dua hingga tiga kali. Untuk setiap cuci darah saja membutuhkan biaya ratusan ribu. Rasanya Riska tidak ingin membebankan Ibu dan kakaknya. Biarkan ini menjadi sebuah rahasia kecilnya.

Ketika Riska pulang ke rumah, Riska melihat Risky sedang memaksa Ibu untuk memberikannya uang. Tentu saja Riska tau, untuk apa uang itu akan dipergunakan. Segera saja Riska berteriak pada kakaknya itu.

“Kak Risky!! Apa–apaan ini? Mengapa kakak menarik–narik Ibu seperti itu?”, teriak Riska dengan penuh emosi.

“Halaaah.. anak kecil itu diam saja ya!”, balas Risky.

“Tapi gak gini kak caranya. Kasihan Ibu tahu!”, nasehat Riska pada kakaknya.

“Gak usah ngurusin orang lain deh, dek!”, Risky pun mendorong Riska hingga jatuh pingsan.

“Dek.. dek, maafin kakak ya! Bangun dong dek”, seru Risky sambil memegang pundak Riska.

“Ki, lekas bawa adekmu ke kamar!”, perintah Ibu dengan panik.

“Baik, Bu”, sahut Risky.

Ketika Riska tersadar, hanya ada Risky di sampingnya. Riska pun meneteskan air mata.

“Jangan menangis, dek! Kakak akan selalu ada di sini untuk nemenin kamu”, ucap Risky sambil mengusap air mata Riska.

“Kak, aku ingin bicara satu hal sama kakak”, kata Riska sambil terisak.

“Iya, katakan saja tak apa”, jawab Risky dengan senyuman.

“Mulai sekarang, kakak harus bisa berubah. Kakak harus bisa lepas dari obat–obatan itu”, pinta Riska.

“Kalau itu aku gak bisa dek! Sudahlah, lupakan saja. Kamu itu gak ngerti gimana masalahnya”, jawab Risky dengan marah. Seketika itu ia pun langsung meninggalkan kamar Riska dan pergi entah kemana. Dan Riska pun hanya bisa terdiam mendengar ucapan Risky.

Sudah berhari–hari Risky tidak pulang. Hingga suatu ketika tubuh Riska terasa lemah, dan Riska pun tergeletak tak sadarkan diri. Ibu pun segera mengantarkan Riska ke Rumah Sakit Pertamina. Ibu pun cemas sekali melihat keadaan Riska, ditambah Risky yang tak kunjung pulang berhari–hari. Ibu sangat kebingungan dengan apa yang terjadi sebenarnya. Karena Riska memang merahasiakan hal ini dari siapa pun.

Tiba – tiba dokter masuk ruangan dan berbicara pada ibu.

“Dok.. bagaimana keadaan anak saya?”, tanya ibu dengan penuh kepanikan.

“Bu, anak Ibu ini sudah mengidap penyakit gagal ginjal sejak lama”, jawab dokter itu.

“Aaapaa? Itu tidak mungkin dok, anak saya selama ini tidak pernah mengeluh punya penyakit apa pun”, seru ibu meyakinkan dokter.

“Mungkin dia tidak ingin mengatakan hal ini kepada siapa pun. Tapi inilah kenyataannya, anak Ibu menderita gagal ginjal akut. Mohon maaf Bu sebelumnya, mungkin umur anak Ibu tidak akan lama lagi. Karena ia tidak pernah mencuci darah selama ini, kecuali dilakukan transplantasi ginjal atau dialisis”, kata dokter.

“Apa tidak ada cara lain dok?”, tanya ibu pada dokter.

“Tidak ada selain itu, kecuali mukjizat dari Tuhan, Bu. Cara itu pun belum tentu bisa menyelamatkan nyawa anak Ibu. Karena, penyakit yang diderita anak Ibu ini sudah stadium III”, kata dokter itu.

“Ya Allah, mengapa hidup hamba-Mu ini begitu banyak cobaannya?”, ucap Ibu sambil menitihkan air mata.

“Sabar Bu.. sabar..”, kata dokter itu sambil menenangkan Ibu.

Ibu pun duduk kembali pada kursi di samping Riska sambil menangis. Riska pun tak kunjung sadar dari komanya ini. Sudah seminggu Riska koma di rumah sakit. Risky pun tak kunjung pulang ke rumah. Hingga Ibu mencari keberadaannya pada teman-temannya. Sampai suatu ketika Ibu melihat Risky di sebuah rumah kosong dekat sekolah Riska. Ibu pun terkejut karena melihat Risky sedang menghisap sabu-sabu.

"Riskyy! Apa yang kamu lakukan?", dengan marah, ibu memanggil Risky.

"Iiibuu..", dengan penuh ketakutan Risky menjawab.

"Ibu tidak percaya dengan apa yang kamu lakukan selama ini. Kenapa kamu tidak pernah bilang Ky? Apa kau tau, adikmu Riska sedang koma di rumah sakit. Ia mencarimu Ky. Dia sangat mencemaskan keadaanmu”, kata Ibu dengan penuh kemarahan.

"Apa? Riss.. Ris..ka koma?", kata Risky dengan penuh ketakutan.

Seketika itu Risky langsung pergi ke rumah sakit dan melihat keadaan Riska yang terbaring koma. Risky pun menitihkan air matanya dan merasa bersalah.

"Dek.. bangun dek.. Ini kakak. Ini kak Risky. Maafin kakak ya, karena kakak kamu jadi gini. Kakak nyesel banget sekarang", kata kak Risky sambil memegang tangan Riska.

Tiba – tiba Riska tersadar dan dapat membuka matanya. Riska pun berbicara kepada Risky meskipun harus terbatah–batah.

“Kaak..”, kata Riska dengan suara lemah.

“Ya dek, syukurlah kamu sudah sadar”, sahut Risky.

“Kenapa kakak gak pernah pulang? Ibu sangat sedih kak..”, kata Riska dengan tetesan air mata.

“Maafin kakak dek, kakak janji gak akan ngelakuin hal itu lagi demi kamu”, jawab Risky dengan raut wajah menyesal.

“Ya kak, dan satu hal lagi.. sebelum adek pergi, kakak harus janji tidak akan memakai obat–obatan itu lagi ya?”, pinta Riska pada Risky.

“Dek, kamu gak boleh ngomong kaya gitu. Kamu harus tetap kuat. Masih ada kakak di sini”, kata Risky dengan raut muka marah.

“Tapi aku sudah gak kuat lagi kak, jadi adek mohon banget sama kakak untuk berhenti dari hal itu”, imbuh Riska.

“Iya dek, kakak janji akan lakuin apa aja demi kamu. Tapi kamu harus kuat. Kamu pasti bisa sembuh”, kata Risky menyemangati Riska.

“Makasih ya Kak, dan jaga Ibu baik–baik jangan buat Ibu susah ya Kak. Sudah cukup penderitaan yang keluarga kita hadapin”, kata Riska dengan terengah – engah.

“Iya dek, kakak janji kok”, ucap Risky.

Tak lama kemudian, tubuh Riska kejang sesaat dan berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin. Dengan kuat Riska memegang tangan Risky yang sedari tadi memegang tangan Riska. Hingga akhirnya Riska menghembuskan nafas terakhirnya tepat di samping orang yang sangat ia sayangi. Dengan rasa penyesalan yang begitu dalam, Risky pun berteriak menyebut nama Riska, adiknya. Ia merasa begitu sedih karena tidak bisa memenuhi keinginan adiknya sebelum Riska pergi. Mulai sekarang, Ia berjanji akan berubah. Ia akan berhenti menggunakan obat – obatan terlarang demi Riska. Ia pun berdoa agar Riska diterima di sisi-Nya.

Seketika setelah Risky berteriak, Ibu pun masuk ruangan Riska dengan menangis tesedu-sedu. Rasanya Ibu tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Namun, Ibu sudah merelakan Riska untuk selama-lamanya. Dan Ibu yakin bahwa inilah yang terbaik untuk Riska.

contoh cerpen

Lelaki yang Mengkhianati Ibu

Cerpen Susialine Adelia

Seperti biasa, Ibu sudah berdandan cantik ketika menemani dan meladeni kami sarapan. Sambil berangkat ke kantor (Ibu pegawai negeri di Taman Budaya) dia akan mengantar kami semua ke sekolah. Sementara Ayah meneruskan mimpinya karena menjelang pagi baru pulang. Apalagi mendekati pentas (Ayah aktor sebuah grup teater ternama di kotaku dan biasanya ia menjadi pemain utama). Tetapi meski malam tak ada latihan, Ayah tak pernah bangun pagi. Begitu setiap hari. Jadi kami tak pernah bertanya kenapa Ayah tidak ikut sarapan, atau merasa kehilangan.

Belum selesai sarapan Ayah muncul dari ruang depan. Seperti biasa wajahnya nampak kuyu, lelah dan ngantuk. Baru aku tahu bahwa ternyata Ayah baru pulang.
"Halo semuanya," Ayah menyapa tanpa mendekati dan mengecup kening kami.

"Nggak sarapan sekalian?" Ibu bertanya.
"Nggak, nanti saja," dan Ayah pun berlalu masuk ke kamarnya.
Kulihat Ibu menghela napas sambil memandang Ayah yang berlalu. Sesaat aku berhenti menyuap, memperhatikan Ibu.

"Kenapa? Selesaikan sarapannya," merasa kuperhatikan, Ibu menegurku.
Aku menggeleng dan cepat-cepat menyuapkan nasi ke mulutku.
***
Tiga hari Ayah tak pulang. Kutanya pada Ibu, katanya Ayah sibuk. Hari pementasasan sudah sangat dekat. Tetapi bukankah dia pentas di dalam kota? Kenapa sampai tak sempat pulang? Ada istri dan anak-anaknya di rumah yang menunggu. Perjalanan pulang banyak memakan waktu sementara Ayah butuh cukup istirahat. Ibu coba menghiburku.
Sorenya Ayah pulang dengan wajah berbinar dan segar.

"Apa kabar sayangku?" sapanya sambil mengecup keningku.
"Kok nggak pulang-pulang, Yah?" aku bertanya.

"Ayah kerja keras, jadi harus hemat tenaga," jawabnya sambil merangkul pundakku. Lalu kusandarkan kepalaku di pinggangnya. "Nanti malam ikut ya, udah mulai run through."

"Tapi jangan ajari dia pulang pagi, ya," kata Ibu sambil menyiapkan kopi untuk Ayah.
"Oh jelas, kita akan pulang siang," jawab Ayah, melirikku sambil tersenyum. Kami bertiga pun tertawa.

Menjelang senja kami berangkat.
"Berapa lama kita nggak jalan-jalan berdua?" Ayah bertanya setengah pada dirinya sendiri.

"Hampir satu semester, Yah. Ayah sih sibuk teruusss," aku berlagak merajuk.
Ayah mengacak rambutku sambil tertawa, "Memang kamu nggak? Rapat ini, pelatihan itu, hmm?"

Kami berdua tertawa.
"Eh, Ayah kok tambah genit sih sekarang?" tiba-tiba aku berkomentar.

"Apa?" tanya Ayah.
"Tiap keluar rapi dan wangi terus gitu," tambahku.

"Lho, memang nggak bangga punya Ayah ganteng dan wangi?"
Kami tiba di tempat pertunjukan saat para kru masih membereskan panggung, sementara beberapa pemain memainkan adegan mereka di sela-sela kru yang sedang merampungkan pekerjaannya.

Ayah meninggalkanku di deretan depan kursi penonton. Dia datangi seorang perempuan yang sedang memberi instruksi pada peñata lampu. Mereka berbicara sebentar. Lalu Ayah berjalan ke arahku diikuti perempuan itu.

"Sayang, kenalkan ini sutradara Ayah."
Perempuan itu mengulurkan tangan sambil menyebutkan namanya, "Tati."

"Citta," kataku menyambut uluran tangannya.
Tante Tati meraih sebuah kursi dan meletakkannya di depanku. Kami ngobrol berdua sementara Ayah meninggalkan kami menyiapkan pementasannya. Tak lama, Tante Tati meninggalkanku, kembali pada pekerjaannya.

Aku tetap duduk di kursiku, mengamati kesibukan orang-orang itu. Sebagian besar di antara mereka sudah kukenal. Maka kulambaikan tangan ketika kebetulan mereka menoleh ke arahku.
***
Berhari-hari Ayah tak pulang lagi. Padahal pementasan sudah selesai.
"Mungkin masih menyelesaikan sisa pekerjaan kemarin," jawab Ibu sambil mengusap keringat adik bungsuku. Sekalipun jawaban Ibu tak masuk akal, aku tak membantahnya.

"Ibu bertengkar sama Ayah?" aku memberanikan diri bertanya.
Tersenyum sambil menggelengkan kepala. Hanya itu jawaban Ibu. Melihatku yang tak juga beranjak dari ranjangnya, Ibu pun bangkit setelah memastikan si bungsu terlelap.

"Sudah selesai belajar?"
Pertanyaan yang lucu. "Kok kayak nanyain Tres yang masih SD aja."

Tampak Ibu agak gugup, tetapi segera ditutupnya kegugupan itu. "Memang kalau udah kuliah nggak perlu belajar?"
Berdua diam.

"Kenapa?" Ibu bertanya.
"Citta yang mestinya tanya, Ayah dan Ibu kenapa," jawabku.
Kudengar desah napas Ibu. Panjang. Diraihnya tanganku dan diletakkan di pangkuannya. "Dua bulan lagi kamu ulang tahun kan. Umurmu akan genap dua puluh dua," berhenti sejenak, menatapku. "Berarti kamu sudah dewasa, sudah tidak harus dibimbing Ayah dan Ibu lagi. Bahkan sudah bisa membantu kami membimbing dua adikmu."

"Maksud Ibu?" aku mengerutkan dahi.
"Tentunya kamu tidak akan terlalu terganggu jika Ayah dan Ibu tidak bersama lagi," kata Ibu lirih tanpa melihatku. Suaranya bergetar.

"Ibu dan Ayah mau pisah?" Pertanyaan yang kuharap tidak diiyakan oleh Ibu. Tetapi keliru. Ibu mengangguk dengan berat. Berat sekali. Seketika kepalaku terasa pening.
"Ibu mau bercerai?" ulangku sekali lagi.
***
Enam tahun berikutnya. Seorang laki-laki duduk di depanku. Tertunduk layu.
"Aku yang mengajarimu berpikir dan bersikap. Tapi sekarang tak kutemukan apa yang kuajarkan dulu," katanya pelan sambil menerawang ke luar jendela.

"Sama. Aku juga tidak menemukan hal yang membuatku kagum dulu," jawabku, juga dengan perlahan.
"Kau tak pernah memaafkan aku," katanya lagi.
"Maafku tak akan menghapus luka kami," jawabku sambil menangkupkan kedua tangan ke mukaku.

Kepalaku tiba-tiba terasa berat begitu teringat masa itu. Teringat Ibu. Sekuat tenaga dia berusaha tabah menghadapi perpisahannya dengan Ayah. Tetapi tak sesederhana itu. Pasca perceraian, Ibu seorang diri harus menanggung hutang Ayah atas namanya. Hutang untuk proses kesenian yang kemudian justru mempertemukan Ayah dengan Tati. Ironis sekali. Ibu pun menjual rumah yang kami tempati, mengajukan pensiun dini lalu membawa kami hijrah ke kota kecil ini. Terlalu banyak luka di kota besar dulu.

Sejak itu hampir tak pernah kudengar berita tentang Ayah. Kota kecil ini terlalu damai untuk mengenangkan cerita lama. Lagi pula kami harus berjuang keras merintis kehidupan di sini dan memikirkan Ibu yang ternyata mengidap kanker payudara.

"Tidakkah penyesalan dan rasa berdosa cukup untuk menebus kesalahanku?" laki-laki itu bertanya lagi.
"Tetap saja kehidupan kami tak kembali," terasa mataku mulai basah.

"Maaf," seorang perempuan muda masuk, mengulurkan secarik kertas dengan tangannya yang tak sempurna dan segera keluar lagi.
"Pulanglah," kataku setelah membaca pesan yang tertera, "Aku ditunggu rapat. Ibu tak akan menemuimu."

Laki-laki itu memandangku. Kecewa, sedih, geram, dan entah apa lagi tampak di matanya. Tapi aku tak begitu peduli. Dia mengangguk lalu bangkit. "Aku masih berharap menjadi walimu di pernikahan nanti," katanya.

"Entahlah. Membayangkan pun aku tak berani."
Dengan lunglai, dia berjalan ke pintu. Sebelum dia menarik pegangangnya, aku memanggil.

"Yah..."
Laki-laki itu menoleh. Tersenyum. Aku hendak mengatakan sesuatu padanya, tetapi tak mampu. Maka hanya anggukan yang kuberikan untuk mengantarnya pergi.

Dalam hati aku berjanji, nanti malam akan kutulis surat untuk laki-laki itu. Isinya: Aku berterima kasih telah dibimbingnya menjadi pribadi yang percaya diri, sehingga menemukan jalan untuk berani mengajak orang lain menempatkan diri sejajar dengan kami dan bukan justru mengasihani. Satu hal yang tak pernah diajarkannya adalah menerima kehilangan. Baru belakangan almarhumah Ibu mengajarkannya padaku. Aku bangkit. Meraih kruk yang kusandarkan di samping kursi. Tentunya teman-teman terlalu lama menanti. ***


SOURCE : http://kumpulan-cerpen.blogspot.com/

lihat cerpen lainnya juga :) itu hanya 1 dari ratusan cerpen lainnya .


kenapa gua hari ini ngepost gini an ? hm , gua pikir pikir ini blog bakal jadi berguna buat para adek kelas gua yang sbi nantinya . karena mulai sekarang gua bakal ngepost ngepost tentang pelajarang di sekolah gua juga . kalo guru gua nyuruh nyari di internet , gua bakal coba ngeporting di sini juga . agar adek kelas gua yang bawel bawel itu bakal lebih mudah dapet apa yang mereka cari . kan pastinya tuh , pas mereka kelas 9 nanti , bakal dapet pelajaran yang udah gua lewatin sebelumnya . haha . kali ini gua dapet pelajaran bahasa indonesia yaitu penceritaan kembali sebuah cerpen .

ini penceritaan kembali dari cerita tersebut menggunakan sudut pandang orang ketiga :


Suatu pagi , ibu dan citta sedang sarapan . Tiba tiba Ayah Citta datang dengan wajah kusut . Ayah Citta adalah seorang Aktor teater terkenal dari salah satu grup teater ternama di kota tersebut . Suatu saat , Ayah Citta mengajak Citta untuk menonton latihan pementasan tersebut . Saat di gedung tersebut , Ayah Citta meninggalkan Citta di deretan bangku pentonton dan tiba tiba seorang perempuan menghampirinya . Ia adalah Tati , sutradara dari ayah Citta . Mereka pun mengobrol . Setelah selesai pentas , ayah Citta pun tak kunjung pulang ke rumah . Hingga suatu hari , Citta memberanikan dirinya untu bertanya kepada ibunya , bahwa apakah ayah dan ibunya sedang bertengkar ? Awalnya ibu Citta memang tidak ingin menjawab pertanyaan tersebut , namun akhirnya ibu Citta menjawab bahwa Citta bisa hidup sendiri bila ayah dan ibunys sudah tidak bersama lagi .

Enam tahun kemudian , seorang laki - laki mendatanginya di kantornya . Laki - laki itu meminta maaf kepada Citta , namun citta tetap tidak ingin memaafkannya . Karena terlalu banyak luka yang ia rasakan selama ini . Ayahnya dulu meninggalkan hutang pentas seni yang justru mempertemukannya dengan Tati . Kemudian , ibu Citta terpaksa menjual rumah yang mereka tempati untuk membayar hutang - hutang ayah Citta dan pindah ke sebuah kota kecil . Dengan wajah sedih dan kecewa , laki laki itu meninggalkan Citta . Namun ,sebelum sampai di pintu keluar , Citta memanggil laaki - laki itu dengan sebutaan Yahh.... dan laki - laki itu tersenyum pada Citta . Citta hanya menganggukan kepalanya untuk menghantar laki - laki itu pergi . Dan Citta berjanji bahwa malam ini ia akan menulis surat untuk laki - laki itu :)

Dialogue about Certainty and Uncertainty

Tia : Oh my God, where is my wallet?
Rio : Are you okay?
Tia : I don't know. I think my wallet is lost.
Rio : Are you certain about it?
Tia : Definitely.
Rio : Don't worry. Let me help you to look for your wallet.
Tia : Oh.. Thank you so much, you're really my best friend.
Rio : you're welcome. By the way, where is the last place that you think your wallet already lost?
Tia : hmm, may be in the park.
Rio : Are you certain, your wallet is lost in the street to park?
Tia : I am uncertainty. I think it was lost in the grasses at park.
Rio : Are you sure?
Tia : I am pretty certain.
Tia : okay, let's search my wallet together.